Sabtu, 08 Juni 2019

Lembah Grime




        Lembah Grime terletak di Papua, Kabupaten Jayapura kecamatan Kemtuk Gresi.                                                               Lembah ini merupakan tempat wisata masyarakat setempat, masyarakat khalayak pada umumnya belum mengetahui bahwa lembah ini mempunyai salah satu sungai yang mengalir didalamnya. Dimana sungai tersebut bernama “ SUNGAI GRIME ”.  salah satu Misionaris yang pernah datang ke Papua terutama ke lembah ini yaitu I.S. Kijne. Disinilah ia mengangkat harkat dan martabat masyarakat dilembah ini melalui Kidung dan nyanyian yang dikarangnya dengan irama alam dan kehidupan disana diantaranya adalah lagu “ JAUH DEKAT HULU SUNGAI GRIME dan MALAM TURUN DILEMBAH “ yang terambil dari nyanyian seruling emas nomor 38 & 57 karangan I.S.  Kijne sendiri. Kehidupan dilembah ini terlihat seperti hampa dan tak berdaya, namun dibalik kehampaan yang tak terduga masyarakat disana hidup dengan budaya yang masih sangat kental. Dapat kita ketahui bahwa dibalik lembah ini terbungkus sebuah bingkisan yang sangat rapih yang masih disimpan oleh para toko adat,agama dan masyarakat itu sendiri. Bingkisan embun yang sangat dingin dan sangat indah dipandang pada waktu pagi dan dikalah senja.
       Para masyarakat hidupnya selalu berburu, meramu, berkebun dan sebagainya. Lembah sungai grime adalah lembah yang tersembunyi dibalik kidung-kidung. Disana kita dapat mendengar nyanyian suara burung yang indah, disana juga kita bisa mendengar suara pohon-pohon yang berdesak-desik kian kemari mengikuti irama angin yang bertiup sepoi-sepoi memanggil kita memasuki alamnya.  Dilembah ini yang harus kita ketahui adalah lembah tersebut juga sebagai tempat parawisata yang belum pernah disentuh oleh orang lain dan juga dunia luar. Tempat ini dipenuhi dengan panorama alamnya seakan memanggil kita, membujuk kita untuk tidur.

gambar 1.2

Terdapat banyak batu-batu kecil yang menghiasi sepanjang sungai grime ini. Hamparan pasir putih ditepian sungai, pohon-pohon tebuhutan pun turut menghiasi sepanjang sungai. Air yang sejuk membasahi tubuh kita jika kita menyentuh airnya, airnya yang sangat dingin seperti sejuknya embun diwaktu pagi.

  Gambar 1.3
Alamnya yang begitu menarik memanggil Mu, aku, dan dia untuk datang ketempat ini. Dimana dapat membuat kita menemukan ide baru dan pikiran yang baru dengan alamnya. 
gambar 1.4
Kita dapat menemukan gagasan-gagasan baru yang menarik jika berada disungai Grime. Memadukan cerita dan syair yang membuat suasana nyaman dan menarik perhatian. Para orangtua mengajarkan atau menceritakan cerita leluhur kepada anak-anaknya, ditepian sungai grime.  gambar 1.5
Cerita leluhur yang disampaikan kepada anak –cucu turun temurun dilembah ini, dimana mereka duduk sama tinggi dan mendengar cerita moyang mereka yang disampaikan oleh orangtua mereka. Disini lah kita diajarkan untuk duduk dan mendengar pesan yang disampaikan.
Disana juga terdapat perkumpulan masyarakat yang unik, dan diselimuti dengan canda tawa yang sangat menggugah hati, senang jika berada disana. Alamnya pun tersenyum jika kita berbuat baik kepadanya. Dengan menjaga dan merawat serta melingdungi dari tangan-tangan yang tak bertanggung jawab. Lembah sungai grime menyambut kita dengan sangat tersenyum.

Gambar 1.6

Lembah sungai grime ku juluki dengan sebuah Nama  “ Lembah yang terhilang”. Diatas udara terpandang awan, diatas tanahnya diselimuti tapak kaki yang datang berkunjung kesana, disanalah tercipta sebuah keharmonisan yang tinggi antara orangtua dan anak-anaknya. Disini juga kita belajar tersenyum dan banyak-banyak membangun sebuah hubungan yang baik antara sesama dan saudara agar tercipta sebuah keharmonisan yang diharapkan bagi kita semua.


ADAT  ISTIADAT

          Salah satu keunikkan yang dimiliki masyarakat disini adalah adat istiadat mereka.                                                            Mereka mempunyai lima(5) komponen adat atau lima(5) jabatan dalam suku (marga), sebagai pimpinan suku/kepala suku atau dalam bahasa disini disebut (1)“T’rang” yang mempunyai hak penuh atas tanah, air, dan hasil alam lainnya. Berikut adalah wakil dari kepala suku/ondoafi yang disebut (2)”Deguino” yang bertugas sebagai pelindung sukunya. Yang berikut adalah sekretaris atau disebut (3)”T’gai” bertugas sebagai seksi perlengkapan apabila ada acara apapun dalam suku selalu mengontrol kekurangan dalam sukunya jika ada yang kurang maka dia akan melengkapinya dengan meminta harta/benda dari bendahara. Berikut adalah bendara yang disebut (4)”B’mei” bertugas sebagai tempat simpanannya suku juga sebagai bendahara, dimana ada kekurangan dalam sukunya maka ia akan melengkapinya. Dan yang terakhir adalah (5)“S’rom” bertugas untuk memberkati, misalnya ada acara dalam sukunya ia yang akan memimpin doa untuk makan setelah berdoa dia akan mengambil separuh dari makanan yang tersedia lalu makan sedikit dan menaruhnya kembali dan memanggil masyarakat/tamu yang hadir atau dalam bahasa disini disebut “Blung” untuk makan. Makanan sudah diberkati, persediaan tidak akan habis sampai semua menjadi kenyang bahkan ada sisanya . Hal ini seperti mujizat yang dilakukan Yesus ketika memberi makan 5000 orang bahkan ada sisanya 12 bakul.


    Selain lima(5) komponen adat atau lima jabatan utama dalam suku mereka juga mempunyai  empat(4) pembantu khusus dalam suku(marga) , diantaranya; (1) Yap Degue, bertugas sebagai tukang pembuat rumah dalam suku jika ada rumah yang rusak dalam suku maka dialah yang akan berperan untuk mengubah dan membuat rumah yang baru. (2) Usu Degue, bertugas sebagai dapurnya suku di bidang perkebunan misalnya kalau ada acara dalam suku dan kekurangan bahan pangan maka dialah yang akan melengkapinya dengan mengambil hasil dari kebunnya. (3) Yano Degue, bertugas sebagai pemburu dalam suku dimana tugasnya untuk  mencari daging misalnya ada acara dalam sukunya kekurangan pangan berupa daging maka dialah yang akan mencarii dan mendapatkan daging untuk melengkapi kekurangan sukunya  tersebut. (4) Sam Degue, bertugas di bidang kesenian misalnya rumah yang baru dibuat pada tiang-tiangnya akan ia mengukir  ukiran khas sukunya karena setiap suku mempunyai ukiran yang berbedah-bedah ia mengukir berdasarkan jabatan pemilik rumah tersebut apakah seorang “T’rang”(kepala suku) atau “Deguino”( wakilnya kepala suku) masing-masing ada perbedaan yang membedakan apakah rumah seorang yang berjabatan atau masyarakat biasa dapat  dilihat atau diketahui dari ukiran tersebut .















BERKEBUN
                                                                                                                                                                                             
       Tak lupa juga masyarakat disana dapat mengajarkan kita cara berkebun. Walaupun diatas sudah dijelaskan bahwa masyarakatnya berkebun. Disinilah kita akan bercerita sedikit tentang berkebun. Masyarakat atau penduduk disana kehidupannya berkebun. Mereka sangat senang jika kita ingin atau punya niat yang tinggi untuk membantu mereka. Mereka dapat menanam Pisang, jagung, sayur-mayur. Dan juga sayur pokok bagi masyarakat disini adalah “SAYUR LILIN dan SAYUR GEDIH” banyak lagi yang tidak sempat disebut. Berkebun adalah kehidupan mereka setiap harinya yang dapat membuahkan hasil. Dilembah ini terdapat tanah yang subur untuk bercocok tanam dari berbagai macam sayur atau rempah-rempah yang mau diolah dengan baik. Dari hasil tanam, mareka dapat menafkahi hidup mereka. Turun-temurun masyarakat lembah sungai grime berkebun dan itulah yang dilakukan setiap hari dari masyarakat setempat.



Gambar 1.7




MERAMU

      Selain berkebun masyarakat dilembah sungai grime juga dapat meramu. Meramu adalah pekerjaan pokok mereka juga seperti berkebun, mereka dapat memangkur sagu dan mengolahnya sampai pada akhirnya menjadi papeda. Pohon sagu yang mereka tanam dan yang dapat tumbuh sendiri dari alamnya. Sagu dapat mereka mengolah dengan  baik dan dapat dijual dipasar tradisional terdekat. Jika persediaan sagu dirumah mereka sudah habis maka mereka akan membuat  kesepakatan bersama anggota keluarga dan tentangga mereka untuk bersama-sama ke dusun  untuk melakukan pekerjaan sagu untuk dapat mereka makan. Itulah yang dilakukan oleh masyarakat dilembah sungai grime. Disinilah kita belajar bekerja bersama dan saling membantu karena manusia adalah makhluk sosial dimana membutuhkan bantuan orang lain, jadi kita dapat mengambil nilai positif yang dimiliki masyarakat setempat .

Gambar 1.8

 Setelah kerja sagu, sorenya mereka akan kembali kerumah untuk istirahat malam dan pada pagi hari mereka kembali melakukan aktifitasnya seperti biasa. Sampai sagu yang mereka tandai untuk mengolahnya habis barulah mereka berhenti dan menunggu musim berikut.
BERBURU
     Disamping berkebun dan meramu, mereka juga dapat berburu dihutan untuk mendapatkan daging agar dapat dikonsumsikan. Masyarakat dilembah ini jika melakukan perburuan mereka akan pergi jauh dari kampung dimana mereka tinggal. Mereka akan pergi ke daerah gunung dan lembah dimana diamnya hewan perburuan yang mereka cari  seperti : babi hutan, kangguru, rusa, tikus tanah dan  burung hutan/ayam hutan. Mereka menggunakan alat berburu seperti Jubi (alat panah), busur (kalawai) parang dan dan juga anjing-anjing berburu yang telah dilatih untuk menangkap mangsanya dihutan dan  alat-alat yang lain untuk melengkapi penangkapan dihutan.


Gambar 1.9
TEMPAT TINGGAL

Pada masa yang lalu, masyarakat membangun rumah dari tali hutan dan juga daun rumbia untuk dapat melindungi mereka dari sinaran matahari, panas hujan siang dan malam. Mereka membuat gubuk-gubuk tersebut untuk mereka dapat tinggal. Waktu terus berlalu masyarakat dilembah sungai grime dapat membangun rumah yang layak untuk dihuni. Mereka dapat mengolah kayu untuk jadikan papan atau lantai dinding rumah mereka dan juga seng sebagai atap pengganti daun rumbia, walaupun demikian masyarakat dilembah sungai grime masih hidup sederhana dengan rumah mereka yang masih sangat sederhana. Mereka membutuhkan pembangunan yang baik yang dapat menyentuh mereka, agar mereka bisa tinggal dirumah yang selayak mungkin.

Gambar 1.10
Dari segi pembangunan, masyarakat sangat membutuhkan uluran tangan dan perhatian yang baik dari para pejabat negeri ini.
KESIMPULAN
      Jadi, dari sekian cerita singkat tentang kehidupan dan masyarakat dilembah sungai grime kita dapat menyimpulkan bahwa : mereka masih sangat kental dengan adat istiadat budaya mereka, mereka masih memiliki kehidupan dengan alam sekitar, mereka masih sangat bergantungan dengan alam. Cara mempertahanakan hidup dilembah sungai grime adalah berkebun, meramu, berburu, dan satuhal lagi yang harus diingat adalah pembangunan. Masyarakat dilembah sungai grime sangat mengingikan pembangunan yang layak dan memadai untuk mereka dapat tinggal didalamnya selayaknya daerah lain dipapua.  Disini terdapat suatu peristiwa penting yang tertulis dalam sejarah orang papua dan masyarakat dilembah sungai grime yang belum diangkat dan diceritan. Lembah ini menyimpan banyak kenangan dan misterius baik yang diketahui dan belum diketahui. Lembah sungai grime adalah lembah puji-pujian yang dijuluki LEMBAH YANG TERHILANG. Panorama alamnya seakan memanggil sobat yang jauh hendak datang kelembah sungai grime.
SEKIAN.

Untuk  kalangan sendiri.
I.W & H.A.IR






Tidak ada komentar:

Posting Komentar